Legenda Kota Tua Diduga Jadi Korban Politik

Oleh

Paulus Manno Raga

Melolo

Melolo – Sumba Timur. Sumber: Bing Maps

Kota Tua di Pulau Sumba yakni Kota Melolo, yang pernah menjadi sebuah kota dari sebuah Kerajaan, kini tinggallah sebuah cerita lama yang kemungkinan akan punah termakan waktu. Kota Melolo yang dulunya terkenal dengan fenomena alam yang begitu indah, sekarang mulai terkikis dan hancur seiring dengan perubahan alam…… Lalu siapa yang harus dipersalahkan???? Apakah kita pantas untuk hanya menyalahkan masyarakat karena dipandang sebagai bersikap semena-mena dalam merombak alam? Ataukah pemerintah yang terkesan masa bodoh dengan fenomena alam tersebut? Ataukah ada indikasi lain dibalik semua ini?

Memang ironis bila kita cermati secara seksama perubahan Umalulu setelah pergolakan politik beberapa waktu yang lalu. Kota ini nampak mati dari semua sisi; sisi pembangunan maupun sisi lain.

Kota Melolo sebelumnya pernah digembar-gemborkan akan menjadi sebuah Kota Kabupaten dalam sebuah rancangan pemakaran Kabupaten Induk, yaitu Sumba Timur. Namun rancangan itu tidak terdengar lagi, karena apa yang tampaknya sebagai kepentingan politik. Untuk mewujudkan suatu Kota Kabupaten, harus ada pembenahan dari semua sisi termasuk infrastruktur yang tertata rapi sebagai modal utama dalam membentuk sebuah Kota Kabupaten.

Banyak masyarakat yang berasumsi bahwa yang terjadi merupakan dampak dari sebuah realita politik. Suka ataupun tidak suka, inilah sebuah fakta atau pun kenyataan dari sebuah sejarah politik yang merupakan bagian dari sebuah prosesi demokrasi. Padahal semestinya kalah atau pun menang adalah hal yang biasa, sehingga tak ada alasan untuk mendendam. Harus ada upaya bahu-membahu untuk membangun daerah dari segala keterpurukan, sehingga akhirnya bisa sejajar dengan daerah lain yang sudah jauh lebih maju dari daerah yang kita cintai ini.

Tak dapat dipungkiri, bagi sebagian orang, kemenangan dalam sebuah pertarungan politik adalah segala-galanya, sehingga tanpa berpikir panjang pemenang langsung membentengi dirinya dengan kekuasaan dan keserakahan. Dalam benaknya tidak lagi perhatian kepada masyarakat, tetapi bagaimana membalas dendam terhadap lawan-lawan dan/atau membalas jasa orang-orang yang beruasaha mentaati dirinya (baca: penjilat-penjilat). Dalam proses, orang-orang tersebut semakin bangga dan berbuat seenaknya, sehingga ada kesan bahwa hal yang salahpun dibenarkan. Kita sangat mendambakan bahwa hal seperti itu tidak terjadi di Sumba Timur, karena Sumba Timur di pimpin oleh orang-orang yang berjiwa Nasionalis dan Agamais.

Orang Melolo atau masyarakat Umalulu pada umumnya kini tak dapat berbuat banyak. Mereka hanya dapat menunggu kapan perubahan bergulir. Kota ini nampak mati dalam sisi pembangunan, atau kalaupun ada, mungkin hanya satu per sekian persen dari pembangunan daerah lain.

Kerusakan terjadi dimana-mana. Namun tampaknya tidak ada upaya dari pemerintah dalam menanganinya. Contoh nyata adalah di sepanjang pesisir pantai Melolo, mulai dari desa Wanga hingga Kelurahan Lumbu Kori, telah terjadi kerusakan berat akibat abrasi pantai. Rumah-rumah penduduk hancur diterjang badai laut, dan sebagian lagi terendam air laut. Pepohonan mulai dari kelapa hingga kepada hutan bakau mulai terkikis dan tumbang satu persatu, namun semua mata tertutup dan tak ada yang mau menanganinya.

Disisi lain, pasar mingguan yang ada di Melolo yang menjadi objek utama dalam perputaran ekonomi masyarakat, sudah reyot dan menunggu waktu untuk rubuh. Tak ada upaya dari aparat pemerintah terkait untuk meliriknya. Sedangkan pasar yang direncanakan untuk pasar harian yang berada di kelurahan Lumbu Kori, tampak dibiarkan begitu saja, sehingga sudah nampak masyarakat berbuat seenaknya, karena tidak ada aparat pemerintah yang mampu menanganinya. Padahal sudah banyak anggaran yang dikeluarkan. Hal seperti ini terkesan seperti pembodohan terhadap masyarakat.

Yang terjadi saat ini, masyarakat dibiarkan mengurus dirinya sendiri. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Melolo bukan bagian dari Wilayah Kabupaten Sumba Timur, yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia? Lantas dimanakah pemerintah selama ini? Apakah menunggu hingga terjadi korban dari masyarakat Umalulu sendiri?

Sungguh ironis, teriakan dan erangan kesakitan dari masyarakat dianggap sebagai tontonan yang menarik untuk di lihat dan dihina bahkan dicaci maki. “Ah…itu salah mereka sendiri! Siapa suruh mereka merusak hutan bakau!” Masyarakat dibiarkan mengurus dirinya sendiri. Lantas…untuk apa pemerintah itu ada? Bukankah pemerintah ada untuk masyarakatnya? Dan kalau benar pemerintah ada untuk masyarakat, lantas dimanakah pemerintah selama ini? Yah…suka atau pun tidak suka, kembali kepada suatu realita hidup, mungkin inilah bagian dari fenomena politik.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , . Tandai permalink.

Bagaimana komentar anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s