Miras Penaraci, Keadaanmu Kini

Melolo, Sumba Pembaharuan – Penaraci atau yang lazim disebut “peci” merupakan salah satu minuman keras yang sudah mengakar di Kabupaten Sumba Timur dan biasa direndam dengan akar obat yang dipercaya bermanfaat untuk kesehatan apabila dikomsumsi dengan takaran yang tepat dan benar. Sebaliknya apabila dikomsumsi dengan cara berlebihan maka penaraci (peci) dapat membawa dampak yang sangat buruk bagi peminat atau pecandunya.

peci
‘Pabrik’ Penaraci

Banyak orang yang beranggapan bahwa Penaraci atau peci di Sumba Timur pertama kali diperkenalkan oleh pendatang dari negeri seberang dengan sebutan “Penaraci Obat” dan didistribusikan secara terbatas untuk alasan pengobatan atau tujuan utamanya adalah untuk kesehatan. Namun saat ini tujuan utama untuk kesehatan sudah hilang dari benak orang, karena targetnya sekarang adalah bisnis murni, seperti yang diungkapkan Hari – salah seorang warga kecamatan Umalulu.

Hari juga sangat menyesalkan karena hingga saat ini tidak ada upaya dari pemerintah untuk menertibkan pengusaha miras atau penaraci yang terkesan asal-asalan dalam memproduksi miras (penaraci). “Apalagi”, kata Hari, “belum ada Perda yang mengatur secara terperinci tentang perijinan dalam produksi miras”.

Keadaan ini sangatlah ironis, karena dari satu sisi miras (penaraci) merupakan salah satu mata pencaharian warga yang boleh dibilang sangat membantu mendongkrak ekonomi warga, mengingat banyaknya pengusaha miras yang dapat menyekolahkan anaknya hingga meraih gelar sarjana. Minuman keras yang dikenal sebagai  AK 1 (Air Kepala) ini bisa digunakan sebagai obat luka yang sangat mujarab apabila dicampur dengan ramuan obat Cina. Namun di sisi lain miras (penaraci)  bisa menjadi alat pemicu keresahan warga, karena bila sudah mabuk akibat komsumsi miras secara berlebihan, banyak pecandu miras (penaraci) akan cenderung membuat keonaran, yang pada akhirnya wargalah yang akan dirugikan.

Dari hasil pantauan media ini, banyak pengusaha penaraci (peci) yang terkesan nakal, dengan mengubah rendaman penaraci yaitu dengan tidak menggunakan akar kayu lagi melainkan dengan bibit roti seperti yang dilakukan beberapa pengusaha penaraci (peci) di Desa Wanga, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur. Bagi pengusaha miras (penaraci/peci) tersebut, penggunaan bibit roti sangat menghemat pengeluaran, sehingga keuntungan yang didapat besar dan mereka tidak perlu repot mencari dan membeli akar kayu rendaman. “Padahal”, menurut Jami. salah seorang warga yang mengaku sebagai warga Desa Wanga,  “penggunaan bibit roti akan berakibat buruk bagi kesehatan pengkonsumsi penaraci (peci).”

Pengusaha penaraci (peci) di Kabupaten Sumba Timur sangat bebas dalam meracik penaraci (peci) karena tidak ada lagi aparat keamanan yang melarangnya seperti yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Mungkin juga aturan selalu berubah, kata warga setempat, mengingat setiap tahunnya selalu ada pergantian pimpinan. SP, MR

Iklan

Satu respons untuk “Miras Penaraci, Keadaanmu Kini

Bagaimana komentar anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s