Melolo Perlu Perubahan

Paulus Manno Raga

Melolo

Melolo dari udara. Sumber: Google Earth

Melolo (Umalulu) dalam perkembangan sejarah, pernah menjadi ibu kota sebuah kerajaan, yang mempunyai pengaruh sangat besar di pulau Sumba, namun dalam kenyataannya, Melolo kini hanyalah sebuah kota kecil dari sebuah kota kecamatan di Kabupaten Sumba Timur. Perjalanan sejarah Melolo melewati berbagai tantangan, baik dari kalangan sendiri maupun yang datang dari pihak luar, yang pada akhirnya mewarnai sketsa Melolo sebagai suatu kecamatan di Sumba Timur.
Perubahan demi perubahan terus bergulir seiring dengan perubahan waktu. Namun apapun adanya Melolo pernah mengukir sejarah sebagai sebuah ibukota kerajaan.

Sebagai bangsa yang besar yang menjujung tinggi etika maupun peradaban leluhur sudah seharusnya kita tidak melupakan sejarah. Orang bijak mengatakan, “bangsa yang besar adalah bangsa yang mau mengenal akan sejarahnya”, dan ini adalah sebuah realitas yang perlu dijunjung tinggi. Karenanya, sebagai putra dan putri daerah ini, sudah sepantasnya kita berkomitmen dan mulai memikirkan bagaimana cara yang terbaik untuk membangun Melolo ke arah yang lebih baik sehingga bisa mewujudkannya sebagai kota kabupaten seperti yang pernah diharapkan.

Sebelum kita mengerti akan maksud dari tulisan ini, terlebih dahulu saya gambarkan sedikit mengenai perjalanan kerajaan di daerah Sumba pada jaman penjajahan Belanda zaman dahulu. Pemerintah Militer dibawah Letnan Rijnders diserahkan kepada pemerintahan sipil di bawah A.J.L. Couvreur, mula-mula sebagai kontrolir kemudian sebagai Asisten Residen Sumba. Sebelum Couvreur menjalankan tugas penertiban pemerintahan ia melakukan penyelidikan kedaan susunan masyarakat seluruh Sumba. Akhirnya Sumba ditetapkan sebagai satu “afdeling” dalam keresidenan Timor dan pulau-pulaunya, yang dibagi atas empat ‘onderafdeling’:

  • Onderafdeling Sumba Timur, dengan ibunegeri Melolo
  • Onderafdeling Sumba Tengah, dengan ibunegeri Waingapu
  • Onderafdeling Sumba Barat Utara, dengan ibunegeri Karuni
  • Onderafdeling Sumba Barat Selatan, dengan ibunegeri Waikabubak.

Ia menetapkan wilayah-wilayah onderafdeling melingkupi beberapa kerajaan (Landschap), seperti dibawah ini:
I. Onderafdeling Sumba Timur
1. Kerajaan Umalulu (Melolo)
Raja : Umbu Hia Maramba Hamataki di Pau
Raja bantu : Umbu Tai Rawambaku alias Umbu nai Kora di Paraingu
Raja bantu : Umbu Tai Tanggurami alias Umbu Kudu di Ngiangandi

2. Kerajaan Rindi-Mangili
Raja : Umbu Hina Marumata di Parai Yamangu.
Raja bantu : Umbu Limu Rihiamahu alias Umbu nai Pura di Kopa (Mangili)

3. Kerajaan Waijilu
Raja : Umbu Teulu Atakawau di Baingu.
Raja bantu : Umbu Kalambaru Parahi di Kabanda

4. Kerajaan Mahu-Karera
Raja : Umbu Ndawa Hawula alias Umbu nai Laki di Kanangaru
Raja bantu : Umbu Katanga Takajanji alias Tarangaha di Lai Ronja, Mahu Barat

II. Onderafdeling Sumba Tengah
1. Kerajaan Lewa-Kambera
Raja : Umbu Tunggu Jama Kareminjawa alias Umbu Biditau di Lambanapu
Raja bantu : Umbu Ngaba Landuparaingu alias Umbu Haumara di Kawangu.
Raja bantu : Umbu Ndai Latiata alias Umbu Tanahomba di Lewa Paku.

2. Kerajaan Tabundungu
Raja : Umbu Tunggu Namu Paraingu alias Pindingara, mula-mula di Tanundangu kemudian di Lambanapu
Raja bantu : Umbu Kandubu Hawula alias Umbu nai Luta di Parai Kareha.

3. Kerajaan Kanatangu
Raja : Umbu Retangu Hadambiwa alias Umbu nai Haru menggantikan Umbu Nggala Lili alias Umbu Lai Humbu di Taimanu

4. Kerajaan Napu
Raja : Umbu Landukura di Napu.
Raja bantu : Umbu Horungu Tanggukonda alias Umbu nai Kaliangu di Ndakurangu

5. Kerajaan Kapunduku
Raja : Umbu Ngaba Mehangukonda alias Umbu nai Taku menggantikan Umbu Tunggu Mbili Nggamunahu alias Umbu Janggatera di Rambangaru

Selanjutnya Onderafdeling Sumba Barat Utara yang terbagi oleh beberapa kerajaan yaitu Kerajaan Laura, Kerajaan Mamboru, Kerajaan Kodi, Kerajaan Mbangedo, Kerajaan Wewewa. Dan yang terakhir Onderafdeling Sumba Barat Selatan yang terbagi oleh beberapa kerajaan yaitu Kerajaan Lauli (Lolina), Kerajaan Wanukaka, Kerajaan Lamboya, Kerajaan Anakalangu, Kerajaan Lawonda.

Dalam perkembangan kemudian terjadi perubahan-perubahan tentang penggabungan-penggabungan wilayah kerajaan (landschap/swapraja), demikian personalianya. Dalam tulisan ini, saya hanya memberikan sedikit gambaran mengenai Kerajaan Umalulu (Melolo).

Dalam perkembangannya sejarah Melolo sudah merupakan dua wilayah kerajaan, yaitu Palaimalamba dan Watupelitu, terjadi sejak tahun 1912 kedua wilayah ini dipersatukan menjadi kerajaan (landschap/swapraja) Umalulu, dibawah seorang raja dari turunan Watupelitu yaitu Umbu Hia Hamataki alias Umbu Maramba. Ketika raja ini telah mencapai usia lanjut, pada tahun 1930 ia diganti oleh putera saudara sepupunya Umbu Hina Janggakadu, yang memerintah sampai dengan meninggalnya tahun 1946 ia diganti oleh puteranya.

Almarhum diganti oleh puteranya Umbu Nggaba Haumara putera Umbu Hia Hamataki karena telah lanjut usia pada tahun 1959 ia diganti oleh puteranya Umbu Windi Tanangunju. Ialah yang menjadi raja yang terakhir bagi kerajaan/swapraja Umalulu, oleh karena tahun 1962 Sistim Pemerintahan Swapraja telah berubah menjadi pemerintahan kecamatan.

Setelah adanya perubahan tersebut maka terbentuklah Kecamatan Rindi Umalulu yakni gabungan dari dua kerajaan, yakni Kerajaan Rindi dan Kerajaan Umalulu. Kecamatan Rindi Umalulu bertahan sampai dengan tahun 1997 pada masa Bupati Sumba Timur, Ir. Umbu Mehang Kunda, karena pada saat itu, kecamatan Rindi Umalulu dimekarkan menjadi dua kecamatan yaitu Kecamatan Rindi dengan ibu kota Tanaraing dan Kecamatan Umalulu dengan ibukota Melolo.

Setelah pemakaran kecamatan Umalalu beberapa tahun yang lalu belum ada perubahan yang berarti, hal ini mungkin diakibatkan lambannya pembangunan ke daerah ini, pemikir strategi wilayah lebih banyak berkonsentrasi bagaimana menjalankan mandat yang telah diembankan kepadanya, ketimbang apa yang harus diprioritaskan terkait sebuah janji untuk memekarkan kabupaten Sumba Timur.

Sebenarnya, infrastruktur di daerah ini masih begitu parah, jalan, bangunan dan lain sebagainya belum tertata rapi, dan perlu adanya pembenahan secara signifikan. Sehingga keinginan untuk cepat keluar dari keterpurukan ekonomi, sosial, pedidikan, maupun budaya saat ini, kearah yang lebih baik dapat terwujud.

Dilain pihak, banyak pengusaha atau pebisnis yang sejak kecil mereka di besarkan di Melolo hengkang dari daerah ini, karena menganggap bahwa Kota Melolo terlalu lamban untuk membawa sebuah perubahan. Namun sayang, anggapan inilah yang membuat Kota Melolo semakin kecil dari yang terkecil. Setelah mata mereka silau oleh kemewahan, mereka mulai beranggapan bahwa Kota Melolo terlalu lamban membawa mereka kepada sebuah perubahan. Timbul beberapa pertanyaan.

  1. Mengapa Melolo terlalu lamban untuk menuju kearah sebuah perubahan?
  2. Siapakah yang lebih pantas untuk mendatangkan perubahan?
  3. Untuk apakah perubahan itu sendiri?

Sedikit saya memberikan gambaran mengenai kondisi Kota Melolo saat ini. Kota Melolo dihuni oleh penduduk yang majemuk, yakni penduduk asli orang Sumba Timur, pendatang yang terbagi dari orang Sabu, Orang Cina, Orang Alor, Timor, Rote, Folres, Bugis dan lain sebagainya. Namun karena sebuah sejarah, maka yang nampak di pusat Kota Melolo hampir dihuni oleh penduduk dari pulau Sabu, Cina, Bugis, dan pendatang lainnya, dan selebihnya penduduk asli Sumba Timur sendiri.

Dari semua pertanyaan tersebut di atas versinya sama saja yaitu sebuah perubahan. Tinggal sekarang sebagai orang yang sama-sama hidup dan dibesarkan di negeri ini, kita sama-sama memikirkan, alternatif mana yang kita pakai, dan dengan cara apa yang kita buat guna mendatangkan perubahan di daerah Melolo. Ada tiga konsep kebersamaan untuk membawa perubahan yaitu:

  1. Merubah mental atau moralitas kita sendiri untuk menumbuhkan rasa memiliki tentang daerah Melolo.
  2. Kita duduk bersama-sama tanpa memandang dari daerah mana dia berasal, guna bermusyawarah tentang langkah apa yang harus kita buat, agar bisa mendatangkan perubahan.
  3. Bersepakat untuk bersama-sama menentukan siapa orang yang kita tunjuk atau lembaga mana yang bisa bermitra, sehingga membawa kita kepada perubahan.

Perlu dipertegas, perubahan di daerah Melolo harus datang dari warga Melolo sendiri (orang-orang yang tinggal menetap di Melolo). Timbul pertanyaan, kenapa perubahan itu harus datang dari orang Melolo dan bukan dari pihak lain? Jawabannya enteng saja, kalau bukan kita, siapa lagi? Tidak mungkin orang lain yang kita tuntut untuk mendatangkan perubahan di daerah kita, sedangkan kita sebagi orang yang hidup dan dibesarkan di wilayah ini, hanya berpangku tangan dan berlagak masa bodoh. Kenapa demikian? Karena hanya orang Melolo sendiri yang lebih memahami akan keinginan maupun kebutuhannya sendiri.

Dengan melihat usaha kita yang begitu giat untuk maju, maka orang lain (Pengusaha dan lain sebagainya) akan melirik Melolo, dan bukan tidak mungkin mereka akan berubah pikiran untuk turut menanam saham di daerah ini. Dengan adanya tiga konsep ini, perlahan namun pasti Melolo akan menuju ke arah perubahan yang diharapkan. Kenapa demikian yakin akan ketiga konsep tersebut dapat membawa perubahan? Karena pekerjaan seberat apapun, apa bila di kerjakan secara gotong royong dan bersama-sama, niscaya akan membawa suatu keberhasilan yang memuaskan. Dan inilah konsep mendasar dan yang paling hakiki dalam tatanan hidup bermasyarakat.

Disisi lain, Kota Melolo juga sangat membutuhkan perhatian yang khusus dari orang – orang yang begitu peduli akan sebuah perubahan dan nilai sejarah, karena di Kota Melolo banyak ditemukan beberapa peninggalan sejarah yang hingga saat ini mulai pudar termakan usia, seperti Kampung Raja Pau dengan stuktur budaya Sumba yang masih kental, Kampung Umalulu sebagai asal mulanya Kota Melolo, dan dermaga Melolo yang letaknya di belakang Kantor Polisi Umalulu yang lama, kini tinggal hanya puing-puing dan sedikit waktu hilang termakan usia. Masih banyak lagi peninggalan sejarah yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang terkubur bersama dengan mulai menipisnya arti sebuah sejarah bagi masyarakat di daerah ini.

Kalau kita mau maju, dan kalau kita mau Kota Melolo cepat keluar dari keterpurukan ekonomi saat ini, masih banyak sektor-sektor yang sangat potensial seperti sektor pertanian, perikanan, peternakan, parawisata dan lain sebagainya, yang sangat membutuhkan sumbangsih pemikiran, kepedulian serta dapat mewujudkannya dengan tindakan nyata, tanpa mengharapkan yang muluk-muluk saja.

Memang kita sadari, bahwa untuk mewujudkan sebuah perubahan, akan ada banyak kendala maupun hambatan yang dihadapi, namun inilah bagian dan keunikan dari sebuah perjuangan dalam mendatangkan perubahan. Tinggal sekarang, apakah kita mau mencoba ataukah kita terus terlarut dalam sebuah ketertinggalan?

Tidak ada yang mustahil, asalkan kita mau mencoba dengan tiada kata menyerah. Kenapa daerah lain bisa maju, dan kita tidak? Kita sama-sama ciptaan Tuhan yang dibekali dengan kemampuan, akal dan pikiran yang sama, tergantung kita, mau atau tidak!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

Bagaimana komentar anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s