Pemilu Legislatif 2014 Sulit – versi Masyarakat Umalulu, Sumba Timur

Melolo, Sumba Pembaharuan.com (9 April 2014). Pemilu legislatif yang merupakan bagian dari pesta Demokrasi dan dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia pada Rabu,09/04/2014, cukup memberikan kesan kepada masyarakat Indonesia, seperti terlihat dari banyaknya masyarakat yang berbondong-bondong melakukan pencoblosan atau memilih orang-orang yang didukungnya untuk duduk di kursi Dewan yang terhormat. Namun demikian, ada indikasi bahwa tidak sedikit masyarakat yang akan kecewa karena tidak bisa berbuat banyak akibat mekanisme pemilihan yang terkesan rumit dan sedikit membingungkan.

Capture14_32_47

Suasana Pemungutan Suara di salah satu TPS di Umalulu

Ria Ngade salah seorang masyarakat Desa Matatawai Atu kepada Media Sumba Pembaharuan.com mengeluhkan tentang tata cara dan mekanisme pemilihan yang membingungkan. Menurutnya, ia tidak dapat berbuat apa-apa karena di satu tulisan yang terpampang pada kertas suara terlampau kecil, sehingga ia tidak bisa membaca nama caleg dan di sisi lain banyaknya kertas pemilihan membingungkannya. Menurutnya hal ini diperparah dengan tidak adanya sosialisasi dari pihak Panitia Pemungutan Suara (PPS) setempat.

Capture14_32_58Marthen Y.T. Panjang salah seorang tokoh masyarakat di Desa Matawai Atu, menyampaikan hal yang senada. Menurutnya, dia sendiri tidak bermasalah dengan mekanisme pemilihan sekarang. Namun dia mengkhawatirkan orang lain yang mungkin kesulitan memahami dan akhirnya melakukannya pencoblosan secara asal-asalan dan tidak tepat sasaran. Ia juga menyesalkan PPS yang tidak melakukan sosialisasi kepada masyarakat sehingga permasalahan yang dihadapi masyarakat saat ini dapat diminimalisir.

Dominggus Radja, wakil ketua PAC Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan wilayah Kecamatan Umalulu ketika di konfirmasi media Sumba Pembaharuan.com menjelaskan kalau Pemilu legislatif kali ini cukup membingungkan masyarakat. Kertas suara yang hanya mempunyai nomor urut dan nama caleg tanpa foto dirasa cukup merepotkan pemilih karena banyak pemilih yang tidak dapat membaca dan menulis. Hampir dapat dipastikan bahwa dengan keadaan seperti itu banyak orang tidak dapat memilih caleg yang dijagokannya. Menurut Dominggus, kesulitan lain yang dihadapi adalah satu pemilih bisa membutuhkan waktu 5-10 menit untuk melakukan pencoblosan. Hal ini dapat memperlambat proses pemungutan suara.

Namun serumit dan sesukar apa pun, pesta Demokrasi sudah berjalan, dan kita tinggal menunggu hasil akhirnya. Apakah Pemilihan Legislatif kali ini bisa berjalan sukses ataukah tidak, kembali kembali penilaian hati nurani masing-masing.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita, Politik. Tandai permalink.

3 Balasan ke Pemilu Legislatif 2014 Sulit – versi Masyarakat Umalulu, Sumba Timur

  1. alex berkata:

    yang lebih aneh di desa mutunggeding dan desa lairuru banyak yg tidak suka sama limu hamanai namun ternyata suaranya membludak ada apa sebenarnya jangan sampai ada permainan di TPS tersebut kalau bisa telusuri masalah seperti ini sama dengan di desa umalulu bahwa KPPS yg coblos bukan warga masyarakat lagi aneh bin ajaip

  2. Mahabar berkata:

    Bung alex, dari 2 desa itu anda harus tau keluarga besar MATALU pasti memilih
    limu hamanai, karena itu kebanggaan buat mereka, karena salah satu tokoh mereka ikut pileg. jd anda tidak tidak usah ragu pemilih dari 2 desa itu.

Bagaimana komentar anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s