Harapan Sekaligus Tantangan untuk Sumba di Tengah Perubahan Iklim yang Melanda

Pemanasan Global atau yang sekarang lebih dikenal sebagai isu Perubahan Iklim merupakan salah satu isu yang menjadi perbincangan hangat di dunia internasional dan nasional karena pengaruhnya yang besar. Menurut para pakar, akan ada akibat yang menakutkan dari Perubahan Iklim, di antaranya kenaikan air laut yang akan menenggelamkan daerah pesisir, kenaikan suhu rata-rata di bumi yang semakin memanas, dll. Salah satu akibat lanjutan Perubahan Iklim yang mungkin punya kaitan yang paling erat dengan kehidupan masyarakat Sumba adalah penurunan produksi tanaman.

Menurut sebuah Kertas Kerja[1] yang disusun sebuah tim dari Institute of Resource Governance and Social Change dan Universitas Nusa Cendana, para pakar memperkirakan bahwa kenaikan suhu sebanyak 1 derajat Celsius saja akan mengakibatkan turunnya produksi tanaman sebanyak 10% – 25%. Untuk daerah-daerah yang memiliki tingkat produksi pangan yang sangat tinggi, mungkin keadaan ini tidak dirasa terlalu berpengaruh. Namun bagi daerah NTT, khususnya Sumba, yang terkenal dengan ketergantungan produksi tanaman pangannya pada hujan yang curah per tahunnya rendah, pengurangan produksi serendah apapun akan berpengaruh bagi kehidupan masyarakat.

Dengan Perubahan Iklim yang melanda saat ini, tampaknya masyarakat Sumba harus siap-siap menderita kelaparan atau menggantungkan diri pada produksi makanan dari daerah lain – yang mungkin juga akan mahal karena produksi di daerah lain juga pasti dipengaruhi Perubahan Iklim. Namun demikian, menurut Kertas Kerja di atas, ada tindakan-tindakan tertentu yang dapat diambil (oleh semua pihak berkepentingan) untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang diakibatkan oleh Perubahan Iklim.

Tindakan yang direkomendasikan oleh tim penyusun kertas kerja adalah:

  1. Perbaikan pengelolaan air di tingkat petani. Petani harus mampu mengembangkan cara-cara untuk untuk menggunakan air secara lebih hemat yaitu dengan mengusahakan agar lebih banyak air yang diberikan pada tanaman tidak terhilang akibat penguapan atau akibat lain.
  2. Petani mengidentifikasi varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi iklim dan serangan hama di Sumba. Hal itu perlu diikuti dengan pengembangan sistem pengadaan benih setempat. Walaupun Kertas Kerja tersebut tidak antipati terhadap penggunaan varietas tanaman dari luar atau varietas hasil pengembangan, namun disebutkan bahwa ada beberapa varietas lokal yang menjanjikan dikembangkan untuk konteks Sumba.
  3. Perlu ada petani yang berani bereksperimen dengan pilihan-pilihan tanaman atau metode yang digunakan untuk penyesuaian diri dengan Perubahan Iklim. Menurut Kertas Kerja ini, keberadaan petani atau kelompok tani demikian sangat penting dalam upaya adaptasi/penyesuaian diri terhadap Perubahan Iklim.
  4. Perlu ada pilihan-pilihan teknologi penyimpanan benih yang bervariasi sesuai dengan kondisi petani. Petani yang bertani untuk kebutuhan sendiri membutuhkan teknologi yang berbeda dari teknologi yang dibutuhkan petani yang sudah berorientasi komersial.
  5. Penyesuaian pola tanam khususnya waktu tanam dan waktu panen dengan kondisi iklim/cuaca. Untuk melakukan penyesuaian perlu ada kerja sama yang erat antara berbagai pihak terkait sehingga diperoleh informasi yang akurat tentang cuaca atau iklim yang penting dalam menentukan waktu tanam yang tepat.
  6. Perbaikan sistem tumpang sari dan agro-forestry yang sudah ada dan dipraktekkan oleh masyarakat. Diakui bahwa saat ini masyarakat sudah mempraktekkan kedua sistem tersebut. Namun demikian, masih ada hal yang dapat ditingkatkan. Sebagai misal, diangkat fakta bahwa dalam sistem tumpang sari yang dipraktekkan di daerah tertentu di Sumba, belum ada kombinasi dengan kacang-kacangan. Diakui bahwa Agro-forestry sudah dilakukan di Sumba tetapi sistem Budidaya Lorong /Alley Cropping yang terbukti berhasil untuk lahan kering di Timor dan Flores belum diperhatikan di Sumba.
  7. Perlu ada penelitian lebih lanjut untuk mendapatkan opsi-opsi strategis dalam rangka adaptasi terhadap Perubahan Iklim di Sumba. Salah satu yang disentil adalah perlu adanya riset tentang

Media ini tidak memiliki kompetensi teknis untuk menilai hasil kajian tersebut dan rekomendasi yang diberikan. Namun demikian, hasil penelitian seperti ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Pada masa lampau kita sudah terlalu sering mengabaikan hasil kajian-kajian para pakar dan biaya yang dibayar akibat pengabaian itu sangat tinggi. Hal ini tidak boleh terulang lagi. Pihak-pihak berkepentingan perlu membaca dan memperhitungkan hasil kajian seperti ini dalam kegiatan mereka baik yang bersifat teknis maupun politis/kebijakan terkait dengan pertanian atau terkait dengan isu lain yang berhubungan dengan pertanian.

Tanpa mengesampingkan peranan pihak lain, pemerintah memiliki peranan penting dalam upaya ini. Namun apakah pemerintah sudah memahami urgensi dari isu ini? Ataukah pemahaman itu baru pada pemahaman yang teoritis tanpa melihat relevansinya dengan kondisi kehidupan masyarakat di Sumba? Apakah Pemerintah memiliki kemauan dan kemampuan untuk merangkul/memobilisir semua pihak terkait demi bekerja sama menghadapi masalah ini? Singkatnya apakah pemerintah peduli dengan nasib masyarakatnya – sehingga merasa perlu menangani masalah akibat Perubahan Iklim ini? Biarlah pertanyaan ini kita jawab masing-masing dan semoga dengan merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini, kita memunculkan jawaban-jawaban yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Jadi, walaupun kertas kerja yang disebut di atas memunculkan harapan bahwa ada peluang bagi Sumba untuk menghadapi masalah Perubahan Iklim, namun harapan tersebut juga membawa tantangan, yaitu tantangan untuk mewujudkan harapan-harapan tersebut melalui kebijakan dan tindakan yang menjawab masalah yang dihadapi.

 

[1]Kertas Kerja dapat diunduh gratis dari http://irgsc.org/pubs/wp/IRGSCWP008-climate-smart-agriculture.pdf

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Opini, Sains dan Teknologi. Tandai permalink.

Bagaimana komentar anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s