Diidentifikasi Zat Untuk Mengatasi Kekebalan Penyakit Terhadap Antibiotika

Melolo. 29 Mei 2014. Salah satu faktor yang menjadi masalah dalam pemberantasan penyakit yang diakibatkan kuman adalah masalah resistensi atau kekebalan kuman atau bibit penyakit terhadap obat. Karena itu kalau kita diberi antibiotik dokter menyarankan untuk tidak berhenti mengkonsumsi obat hanya kalau pasien sudah merasa lebih baik. Pasien disarankan untuk memakan obat sampai setidaknya 1 minggu demi menghindari kekebalan kuman terhadap obat. Namun demikian, walaupun sudah ada berbagai upaya untuk menghindari kekebalan penyakit terhadap obat, kekebalan terus saja terjadi. Seandainya semua kuman sudah kebal terhadap antibiotika, maka semua teknis perawatan dan pengobatan seperti operasi besar dan kecil akan mengakibatkan penyakit lain atau malah kematian.

Namun demikian, baru-baru ini sejumlah peneliti dari University of British Columbia, Kanada berhasil mengidentifikasi sebuah molekul yang berpotensi untuk menghindarkan resistensi kuman penyakit terhadap pengobatan dengan antibiotik.

“Saat ini ada masalah besar terkait dengan resistensi terhadap antibiotika,” kata Bob Hancock, seorang professor di Jurusan Mikrobiologi dan Imunologi, University of British Columbia, yang menjadi penulis utama laporan penelitian yang dimuat PLOS Pathogens tersebut. “Seluruh senjata antibiotika kita secara bertahap kehilangan efektivitasnya.”

Molekul yang diidentifikasi oleh tim peneliti menghancurkan lapisan lapisan yang dibentuk oleh bakteri untuk melekat ke permukaan bagian tubuh yang diserangnya atau yang dikenal dengan lapisan ‘biofilm’. Lapisan ini juga melindungi bakteri dari serangan obat antibiotika.

“Antibiotika adalah obat yang paling berhasil di bumi. Tidak adanya antibiotika yang efektif akan membawa masalah besar untuk operasi besar, perawatan kemoterapi tertentu, transplantasi organ, dan bahkan cedera kecil,” kata Hancock. “Strategi kami merupakan kemajuan besar dalam pencarian akan zat yang secara khusus menyerang biofilm bakteri.

Sayangnya, zat tersebut hanya untuk bakteri, bukan kuman penyakit lainnya dan masih diperlukan penelitian lanjutan untuk digunakan dalam pengobatan. DAD

Sumber berita Utama: Berita Resmi University of British Columbia

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita, Sains dan Teknologi. Tandai permalink.

Bagaimana komentar anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s