Gara-Gara Raskin, Warga Babak Belur Dianiaya Kades dan Anggota Satpol PP

Melolo, 7 Desember 2014. Sungguh malang nasib Markus Adrianus Mone, Ketua RT 12 RW 05 Desa Paberamanera, Kecamatan Paberiwai. Pada tanggal 28 November 2014 ia diduga menjadi korban penganiayaan Kepala Desa Paberamanera, Agustinus Taka Djanji dan Oknum Satuan Anggota Pamong Praja Kabupaten Sumba Timur berinisial SON dan YAPT.

Adrianus Mone

Markus Adrianus Mone, diduga korban penganiayaan Kades Paberamanera dan Anggota Sat Pol PP Kab. Sumba Timur

Penganiayaan tersebut, menurut pengakuan Mone, dilakukan dengan cara menendang dan memukul di bagian badan dan kepala hingga ia pingsan. Beruntung ada seorang anggota Hansip setempat bernama Bernabas yang mengantarnya kembali ke rumah setelah ia sadar.

Menurut Mone, awalnya ia diminta oleh sang Kepala Desa untuk mengumpulkan Uang Raskin dari warga binaannya di RT 12, RW 05 desa Paberamanera. Setelah terkumpul, pada bulan Juli 2014 ia menyerahkan uang setoran beras murah dari warga tersebut kepada sang Kepala Desa, Agustinus Taka Djanji.

Hal yang sama juga diungkapkan HD, warga Desa Paberamanera, saat dikonfirmasi awak media ini. Menurutnya uang beras raskin dari RT 12 RW 05 sudah diterima oleh Kepala Desa Paberamanera Agustinus Takadjanji dari bulan Juli 2014.

Setelah masyarakat menunggu hingga bulan November 2014, kabar mengenai beras murah tersebut menjadi kabur dan tidak jelas. Warga yang merasa mengumpulkan uang untuk pembelian beras murah tersebut mendatangi Mone pada tanggal 28 November 2014 guna menanyakan status Raskin yang tidak jelas tersebut, karena warga berasumsi bahwa Monelah yang memakai uang tersebut.

Merasa tidak menggunakan uang tersebut dan untuk manyakinkan warga, Mone bersama beberapa utusan warga  menemui Kepala Desa Paberamanera pada hari itu juga, guna menanyakan keberadaan beras untuk orang miskin. Namun sayang, menurut Mone, pertanyaannya mengenai beras tersebut di balas dengan ancaman “Kamu mau perintah saya!!!?? Kamu anggota Pol PP, tolong bina dulu warga yang kurang ajar itu…!!!??”

Menurut Mone, setelah menerima perintah itu, satu rombongan anggota Pol PP yang berada di TKP langsung memukulnya secara membabi buta hingga ia jatuh pingsan.  Oknum anggota Satuan Pol PP Kabupaten Sumba Timur diduga sudah dipersiapkan oleh sang Kades menyambut kedatangan sang Ketua RT dan warga. Menurut Mone, karena takut akan terjadi kejadian susulan, akhirnya pada tanggal 29 November 2014, ia berkeinginan melaporkan kasus tersebut ke Polsek Paberiwai, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Namun karena tidak adanya anggota yang berjaga di tempat, maka ia memutuskan untuk melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Umalulu dan diterima oleh Pak Yoram dan Kanit Reskrim Umalulu, Bripka Abubakar S. Masriki.

PLH Kapolsek Umalulu, Ipda Putu Pariada setelah dikonfirmasi melaui telepon selurernya membenarkan laporan tersebut. Namun karena Tempat Kejadian Perkara berada di Polsek Paberiwai, maka pada hari Selasa (9 Desember 2014) baru dilakukan perlimpahan kasus.

Camat Paberiwai sebagai kepala wilayah, yang merupakan perpanjangan tangan Bupati Sumba Timur, terkesan tidak senang dengan tindakan Ketua RT melaporkan kasus tersebut ke Pihak Kepolisian. “Saya atasan langsung mereka, karena merupakan aparat setempat. Jadi kalau terjadi pertinkaian, harusnya melapor ke saya, bukan ke Kepolisian. Saya akan bina ketua RT seperti itu karena tidak tahu aturan,” tegasnya. Namun ketika ditanya, apakah kasus pidana yang menyangkut kasus pengeroyokan dan penganiayaan dengan ancaman nyawa orang lain dapat diselesaikan oleh Kecamatan, pihaknya tidak menjawab, dan ia juga tidak mau memberikan nama jelas dan titelnya pada media ini.

Bupati Sumba Timur Drs. Gidion Mbiliyora, M.Si, setelah diinformasikan tentang dugaan kasus penganiayaan tersebut, mendukung langkah yang dilakukan oleh Ketua RT 12, RW 05 Desa Paberamanera untuk melaporkannya ke polisi agar oknum Kepala Desa dan Aparat Satpol PP yang terlibat diproses secara hukum. Menurut Bupati Gidion, tindakan oknum Kades dan oknum anggota Sat-Pol PP untuk main hakim sendiri dengan pengroyokan dan penganiayaan tersebut tidak dapat dibenarkan, karena tidak ada dalam aturan seperti itu.

Dalam hal ini warga sangat mengharapkan pihak Kapolres Sumba Timur mengawasi kinerja anggotanya dalam menindaklanjuti kasus seperti ini, karena bukan tidak mungkin pihak warga akan menjadi korban serangan balik dari oknum Kades dan krunya. Hal ini perlu diantisipasi agar warga tidak terus-menerus menjadi korban kesewenangan pihak aparat pemerintah mengintimidasi dan merampas hak warga untuk memperoleh keadilan hukum. (Jhon, SP)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita, Hukum & Kriminal. Tandai permalink.

Bagaimana komentar anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s