Jokowi Disambut Ciuman A La Sabu: Pengguna FB Berbeda Pendapat

Melolo, 22 Desember 2014. Salah satu topik yang cukup menggelitik di media sosial Facebook dalam dua hari terakhir adalah kasus seorang ibu yang menyambut Presiden Joko Widodo dengan ciuman persaudaraan a la Sabu – yaitu saling menyentuhkan ujung hidung. Menurut pengamatan Media ini, pertama kali berita tersebut diangkat oleh Media Seputar NTT Online.  Dikabarkan bahwa seorang ibu sempat menyambut  Presiden dengan ciuman a la Sabu dan Gubernur NTT – Frans Lebu Raya – gagal menahan si ibu, sedangkan Ketua DPRD NTT – Anwar Pua Geno, mengerutkan Dahi.

Ada berbagai reaksi pengguna Facebook terhadap berbagai aspek kejadian tersebut. Ada yang menunjukkan sikap senang terhadap fakta bahwa Presiden RI mendapat ciuman khas dari NTT tersebut. Seorang pengguna misalnya menaruh di Status Facebooknya: “Akhirnya Jokowi dapat ciuman ala ‘Savunese’ juga di Kupang…he he he” atau “Biar bp (red: bapak) presiden mengetahui dan mengenal adat sabu,,itu cium tanda kekeluargaan.”

Dom Dodo Cium Sabu

Banyak ciuman 2

Banyak ciuman

Di pihak lain ada juga yang mengungkapkan pendapatnya bahwa si Ibu yang mencium Jokowi tidak sopan. Alasan yang dikemukakan orang dari kelompok ini antara lain Jokowi tidak datang ke Sabu sehingga tidak pantas disambut dengan ciuman Sabu. Pengguna lain menghubungkan ciuman itu dengan kemungkinan bahwa si ibu tersebut adalah orang yang selama ini rajin mengkritik Jokowi secara tidak fair di salah satu group di Facebook. Dengan demikian, maka ciuman si Ibu hanyalah ciuman pengkhianatan, seperti Yudas Iskariot. Di bawah adalah screen capture pernyataan yang tidak setuju dengan perbuatan si ibu.

Menentang

Yudas

Namun demikian ada juga yang mendukung sikap si ibu dan mempertanyakan reaksi Gubernur dan Ketua DPR. Mereka menilai bahwa reaksi keterkejutan atau mungkin ketidaksukaan Gubernur – Lebu Raya dan Ketua DPR – Pua Geno bisa jadi merupakan manifestasi dari rasa inferioritas budaya. Sebagai pemimpin di provinsi ini mereka harusnya tidak perlu melarang si ibu atau mengerutkan dahi ketika ada orang yang mempraktekkan salah satu budaya di NTT kepada Presiden. Diungkapkan, bahwa kalau orang dari wilayah lain di Indonesia boleh berkoteka di depan presiden, mengapa orang NTT mencium presiden dengan ciuman ala Sabu?

Ivan Joko Lobo Ma Kuru.

MK dukung

Bagaimana dengan pembaca? Anda memilih pihak yang mana dalam perdebatan ini? (DAD)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Bagaimana komentar anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s