Peningkatan Emisi Karbon, Dibarengi Peningkatan Serapan Bumi

Ilustrasi karbon dioksida. Sumber: Wikipedia

Melolo, 19 Mei 2015. Pemanasan Global atau sekarang dikenal dengan Perubahan Iklim menjadi isu yang sudah cukup lama hangat diberbincangkan. Bahkan dalam konteks Sumba saat ini, ada program-program yang berkaitan dengan masalah Perubahan iklim ini, misalnya Sumba Iconic Island, WGC, dll. Salah satu topik yang terkait dengan isu Perubahan Iklim adalah masalah jumlah gas karbon dioksida atau CO2 yang dilepas dan berada di atmosfir bumi (udara). Gas ini dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (gas bumi, bensin, minyak tanah, dll) serta pernapasan makhluk hidup.

Sejatinya, gas karbon dioksida (bersama dengan gas lainnya) merupakan komponen penting karena gas ini menahan panas matahari sehingga kondisi bumi tidak terlalu dingin saat matahari tidak ada. Namun menurut para ahli, kalau kandungan karbon dioksida di udara terlalu banyak, maka jumlah panas yang ditahan bumi akan semakin banyak dan bumi akan memanas.

Namun demikian, hasil penelitian ilmuwan senior dari Woods Hole Research Center bernama Richard A. Houghton, yang diterbitkan oleh journal Biogeosciences menunjukkan bahwa seiring dengan semakin tingginya jumlah karbon dioksida yang dilepas ke udara, kapasitas Bumi untuk menyerapnya pun semakin meningkat.

“Kita harapkan bahwa dengan semakin panasnya bumi, maka jumlah karbon yang diserap semakin rendah. Namun sampai saat ini hal tersebut tidak terjadi,” ujar Houghton, seperti dikutip Science Daily. Menurut Houghton, jumlah gas karbon dioksida yang dilepas ke udara saat ini adalah tiga kali lipat dari jumlah karbon dioksida yang dilepas ke udara pada tahun 1960s. “Peningkatan jumlah karbon yang diserap mengejutkan sekaligus merupakan berita baik. Tanpa ada peningkatan, maka konsentrasi CO2 di udara akan bertambah sebanyak dua kali lipat dan perubahan iklim akan lebih besar daripada yang sekarang. Namun demikian, tidak ada jaminan peningkatan ini akan terus berlanjut,” lanjut Houghton.

Sejak tahun 1956, ketika pemantauan CO2 di udara dimulai di Mauna Loa Observatory (MLO), banyak stasiun cuaca telah dibangun untuk mengukur jumlah karbon di udara dan bagaimana jumlah tersebut bervariasi secara musiman dan berdasarkan wilayah geografis. Pengukuran-pengukuran tersebut memungkinkan untuk mendeteksi perubahan perilaku siklus karbon global. DAD

Bagaimana komentar anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s