50 Istilah Terkait Psikologi dan Psikiatri disalahpahami?

misunderstanding-cartoon

Ilustrasi salah paham. Sumber: http://www.duranprice.com/

Melolo, 19 Agustus 2015. Menyimak istilah yang sama yang muncul di berbagai kokteks komunikasi, pada umumnya orang merasa bahwa istilah-istilah tersebut memiliki makna yang sama. Apa lagi kalau istilah-istilah tersebut digunakan para ahli dalam bidangnya.

Namun demikian, ini rupanya pandangan ini tidak selalu benar. Tanggal 3 Agustus 2015 lalu, sebuah jurnal ilmiah akses bebas di bidang Psikologi bernama Frontiers in Psychology menerbitkan ulasan dari enam pakar psikologi dan psikiatri dari beberapa Universitas di Amerika Serikat, yang bertujuan untuk “mendorong pemikiran dan penulisan yang jelas di antara para siswa dan guru ilmu psikologi dengan membatasi kesalahan informasi dan kebingungan.”

Para penulis membahas 50 istilah (kata atau frasa) dalam bidang psikologi dan psikiatri atau bidang terkait yang harus dihindari atau digunakan seperlunya saja karena “tidak akurat, mengakibatkan salah paham, disalahgunakan, ambigu, dan secara logis membingungkan“ Istilah-istilah dikelompokkan menjadi lima golongan yaitu: istilah yang tidak akurat atau yang menyebabkan kesalahpahaman, istilah yang sering disalahgunakan, istilah yang ambigu (bermakna ganda), oksimoron (istilah yang saling kontradiksi tetapi digunakan secara bersama) dan pleonasme (pemborosan kata). Istilah-istilah tersebut bukan hanya disalahpahami di masyarakat umum/awam, tetapi juga di kalangan akademis dan media populer.

Istilah-istilah yang dikoreksi dalam tulisan ini antara lain:

  1. Obat anti depresi. Obat anti depresi memberi kesan seolah-olah obat ini khusus untuk menangani masalah depresi pada pasien, padahal para pakar masih ragu apakah memang obat-obatan tersebut memang spesifik untuk masalah depresi. Di samping itu sejumlah pakar juga berargumen bahwa obat-obatan tersebut kurang efektif dibanding klaim yang lazim dikemukakan.
  2. Epidemi autisme. Tidak ada bukti bahwa memang kasus autisme mengalami peningkatan. Ada kemungkinan bahwa yang terjadi adalah peningkatan kesadaran masyarakat tentang autisme.
  3. Ketidakseimbangan kimiawi. Pandangan yang umum dipegang karena adanya iklan produsen obat adalah bahwa depresi diakibatkan karena ketidakseimbangan kimiawi dalam otak. Namun demikian, sedikit sekali bukti untuk mendukung pandangan ini.
  4. Titik Tuhan (God Spot). Berdasarkan temuan teknik pencitraan bahwa gagasan keagamaan berhubungan dengan aktivasi bagian otak tertentu, sejumlah media dan dunia akademis mengatakan bahwa titik yang aktif ini merupakan “titik Tuhan” yang berada di otak manusia. Namun demikian istilah tersebut tidak akurat karena berbagai kemampuan psikologis manusia (termasuk keagamaan) tidak hanya ditentukan oleh bagian otak tertentu tetapi menyebar di berbagai bagian otak.
  5. Pengaruh gender (atau kelompok sosial, pendidikan, ethnisitas, depresi, kecerdasan, dll.) terhadap X. Kata ‘pengaruh’ terkait dengan hubungan sebab akibat. Namun demikian, studi-studi yang membahas hal ini biasanya bersifat korelatif dan tidak menunjukkan sebab akibat. Karena itu rumusan seperti ini harus digunakan dengan hati-hati.

Ada berbagai istilah lain yang dikoreksi. Pembaca diharapkan membacanya langsung pada tulisan yang dapat diakses melalui tautan ini: http://journal.frontiersin.org/article/10.3389/fpsyg.2015.01100/full. (DAD)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita, Sains dan Teknologi. Tandai permalink.

Bagaimana komentar anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s