Berkurangnya Daya Nalar Berkorelasi dengan Ateisme?

Melolo, 29 November 2015. Sebuah penelitian terbaru seorang psikolog dari University of York menunjukkan adanya korelasi antara berkurangnya kepercayaan kepada Tuhan dan berkurangnya prasangka buruk terhadap Kaum Imigran dengan berkurangnya aktivitas otak yang mengatur tentang penalaran kritis. Demikian menurut, Eureka Alert, sebuah saluran berita Online yang dijalankan American Association for the Advancement of Science, edisi 14 Oktober 2015.

Dilaporkan Eureka Alert, Dr. Keise Izuma yang bekerja sama dengan sebuah tim dari University of California, menghentikan kegiatan bagian otak yang bertanggung jawab mengatur perilaku berpikir kritis (mendeteksi masalah dan memberi tanggapan terhadap masalah) yang disebut posterior medial frontal cortex. Peserta penelitian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu peserta yang medial frontal cortex-nya diberi daya magnetis rendah sehingga tidak mempengaruhi aktivitas otak dan peserta yang medial frontal cortex-nya diberi daya magnetis tinggi sehingga menghentikan kerjanya untuk sementara. Peserta kemudian dimintai mengungkap pandangannya tentang kematian, kepercayaan agama, serta perasaan mereka terhadap para imigran.

Temuan penelitian ini, yang diterbitkan journal Social Cognitive and Affective Neuroscience menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan kepada Tuhan, malaikat, atau surga dari kelompok peserta yang dihentikan kegiatan medial frontal cortex-nya mengalami penurunan sebesar 38%. Dilaporkan tingkat perasaan positif terhadap kaum imigran yang mengeritik negaranya naik sebesar 28.5%.

Dikutip Eureka Alert, Dr. Izuma mengatakan bahwa dari penelitian sebelumnya ditemukan bahwa orang akan berpaling ke ideologi ketika menghadapi masalah dan ketika medial frontal cortex dihentikan kegiatannya, maka kecenderungan orang untuk berpaling ke agama menurun.

Dr Colin Holbrook, dari UCLA salah seorang penulis utama dari penelitian tersebut menambahkan “Temuan-temuan ini sangat mencolok, dan sejalan dengan pandangan bahwa mekanisme otak yang berevolusi untuk menjalankan fungsi ancaman-respon juga diarahkan untuk menghasilkan reaksi ideologis. Namun, perlu ada penelitian lebih lanjut untuk memahami secara pasti bagaimana dan mengapa keyakinan agama dan sikap etnosentris berkurang dalam penelitian tersebut.” DAD.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita, Sains dan Teknologi dan tag , , . Tandai permalink.

Bagaimana komentar anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s