Siap Menghadapi Krisis Dalam Sains?

Melolo, 11 April 2017. Ketika dikatakan bahwa sebuah kesimpulan merupakan hasil penelitian ilmiah, serta-merta sebagian besar kita yang awam akan mempercayainya. Sains begitu luar biasa. Sains telah memberikan teknologi yang memudahkan hidup manusia (dan juga makhluk hidup lain). Tidak mungkin kesimpulan sains salah.

Mungkin benar kesimpulan sains mustahil salah. Tetapi ungkapan kontemporer kita mengatakan ‘ilmuwan juga manusia’. Walau dalam keadaan ideal mungkin sains menghasilkan kesimpulan yang pasti benar, keadaan tidak selalu ideal. Para ilmuwan bisa melakukan kesalahan, karena mereka manusia.

Dalam sains, sebuah hasil penelitian yang dilakukan seorang ahli harus dapat dikonfirmasi oleh hasil penelitian lain pada kondisi yang sama  baik yang dilakukan pakar lain atau maupun yang dilakukan pakar yang sama. Dengan kata lain hasil sebuah penelitian harus dapat diulangi oleh penelitian lain yang dilakukan oleh pakar yang sama atau pakar lain, pada kondisi yang sama. Hal ini dikenal dengan istilah reprodusibilitas.

Dikutip situs Real Clear Science, pada tahun 2015, jurnal sains Nature mengadakan pengujian terhadap 98 penelitian psikologi dan hanya 36% dari hasil penelitian tersebut yang memberikan hasil bermakna, sedangkan 97% dari ke-98 penelitian tersebut menyatakan memberikan hasil yang bermakna. Artinya hanya sekitar se pertiga di antaranya yang terkonfirmasi. “Jangan mempercayai segala sesuatu yang Anda baca dalam literatur psikologi” ungkap reporter Monya Baker dari jurnal Sains Nature. “Kenyataannya, dua per tiga dari literatur tersebut tidak dapat dipercaya,” tulisnya

Pada tahun 2016, jurnal yang sama melakukan jajak pendapat terhadap 1.576 pakar dari berbagai bidang dan hasilnya menunjukkan bahwa 70% dari antara nyamengaku telah mengulangi penelitian yang dilakukan orang lain dan hasilnya tidak bermakna seperti klaim peneliti awal. 52% dari antara mereka berpendapat bahwa saat ini sedang terjadi krisis yang bermakna dalam hal reprodusibilitas penelitian, sedangkan 38% menyatakan bahwa krisis yang dialami tidak bermakna.

Dari segi jenis ilmu, hasil jajak pendapat yang dilakukan menunjukkan bahwa:

  1. Dalam bidang Kimia, sekitar 90% dari penelitian orang lain dan 60% penelitian sendiri yang tidak dapat diulangi.
  2. Dalam bidang Biologi, sekitar 80% dari penelitian orang lain dan 60% penelitian sendiri yang tidak dapat diulangi.
  3. Dalam bidang fisika dan teknik, sekitar 70% dari penelitian orang lain dan 50% penelitian sendiri yang tidak dapat diulangi.
  4. Dalam bidang obat-obatan, sekitar 70% dari penelitian orang lain dan 60% penelitian sendiri yang tidak dapat diulangi.
  5. Dalam bidang ilmu bumi dan lingkungan, sekitar 60% dari penelitian orang lain dan 40% penelitian sendiri yang tidak dapat diulangi.

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2009 menunjukkan bahwa 2% ilmuwan mengakui telah memalsukan data sekurang-kurangnya sekali dan 14% mengakui mengenal secara pribadi orang lain yang melakukannya, dan 72% mengenal secara pribadi orang  yang melakukan praktek lain yang dipertanyakan dalam penelitian.

Seperti halnya bidang kehidupan manusia yang lain, sains bisa mengalami masalah. Pertanyaannya adalah apakah kita cukup memiliki kemampuan berpikir kritis untuk menghadapi berbagai kesalahan dari penelitian ini? DAD

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita, Sains dan Teknologi. Tandai permalink.

Bagaimana komentar anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s