Peternak Ayam Pedaging Sumba Timur Terancam Kebijakan Daerah

Peternak Ayam Pedaging Sumba Timur Terancam Kebijakan Daerah

Melolo, 26 Mei 2021. “Keputusan Sekda Sumba Timur, Domu Warandoy, SH, M.Si, Jumat 21/05/2021, dalam rapat pembahasan perhitungan real kebutuhan ayam pedaging di aula kantor Sekda Sumba Timur, sangat berpotensi melumpuhkan Peternak ayam pedaging di Sumba Timur dan usahanya akan siap gulung tikar,” demikian ungkap Gerson DR, Ketua Kelompok peternak Mutiara Indah, dkk. Menurutnya hal ini tidak sejalan lagi dengan agenda pembahasan yang sudah berjalan, yang selama ini di mediasi oleh Dinas Peternakan Sumba Timur. 

Rapat yang dipimpin langsung oleh Sekda Sumba Timur itu dihadiri beberapa instansi terkait antara lain Dinas Peternakan, Dinas Perdagangan, Kepala Karantina Waingapu, Gerson DR ketua kelompok peternak Mutiara Indah beserta anggota, PT. PELNI sebagai penyedia jasa pengadaan karkas daging ayam beku, dan pemangku kepentingan lain.

Keputusan rapat yang dibacakan langsung oleh Domu Warandoy, sebagai Sekda Sumba Timur, terkesan tidak sejalan dengan temuan di lapangan mengenai adanya indikasi penyimpangan regulasi dan aturan pengadaan ayam beku puluhan ton oleh PT. PELNI SUMBA TIMUR, yang sebagai pemasok daging ayam beku tidak mempunyai izin atau surat Rokomendasi dari Dinas Peternakan Sumba Timur. Tidak ada sanksi sedikit pun yang diberikan walau sudah nyata menyalahi aturan administrasi daerah setempat. Sedangkan masyarakat lainnya harus mengurus surat rekomendasi dari Dinas Peternakan baru bisa pengadaan ayam.

Dalam pembacaan keputusannya, Sekda mengemukakan kebijakan baru bahwa ayam beku boleh masuk kapan saja tanpa ada batasan waktu. Hal ini tidak sejalan dengan keputusan dari Dinas Peternakan Sumba Timur yang membatasi pengadaan ayam beku dengan hanya pada hari besar agama saja seperti hari raya Idul Fitri dan hari raya Natal, dll.

Kadis Peternakan Sumba Timur, Ir. Yohanis Radamuri ketika ditanya terkait keputusan Sekda dalam rapat perhitungan real ayam pedaging Sumba Timur, menjelaskan, pengadaan ayam beku harus ada keseimbangan antara ketersedian stok ayam dan kebutuhan, “bukan seperti tanggapan Sekda,” katanya. Ditambahnya, tahun ini pengadaan DOC dua kali lebih banyak dari tahun sebelumnya, sehingga kebutuhan akan daging sudah terpenuhi untuk Sumba Timur saat ini. “Tapi mau gimana lagi,” katanya. “Kami ini hanya bawahan,” katanya dengan pesimis.

Gerson Nd, ketua kelompok peternakan Mutiara juga sangat menyesalkan keputusan rapat tersebut. “Keputusan rapat ini sama sekali tidak mencermin keadilan, dan hal ini sama saja membunuh ratusan peternak lokal yang ada di Sumba Timur.” “Padahal sebenarnya, pemasukan karkas atau daging ayam beku adalah instansi pemerintah terkait, yang membawahi kepentingan segelintir orang saja, itu pun harus mengikuti regulasi dan aturan yang dibuat oleh Pemda Sumba Timur melalui Dinas Peternakan Sumba Timur” katanya.             

Dalam pembahasan tersebut sempat juga diangkat terkait mahalnya harga ayam di pasar, yang diakibatkan naiknya harga pakan ayam pedaging secara signifikan, dari harga semula Rp 380.000,- menjadi Rp 430.000,- hingga Rp 485.000,-. Hal ini akan terus naik berhubung adanya pelarangan impor jagung oleh pemerintah pusat seperti yang diungkapkan Alex salah seorang distributor pakan ayam pedaging di Sumba Timur.

Menanggapi hal tersebut, Sekda Sumba Timur, Domu Warandoy berjanji, Pemerintah Daerah Sumba Timur akan memediasi pengadaan pakan ayam PEDAGING ke Sumba Timur, sehingga dapat menekan mahalnya harga ayam dipasaran, namun itu ditahun kedepannya katanya. Paul, SP.net

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *