Kesimpulan Para Pakar WHO Tentang Asal-Usul Covid-19 Menyesatkan

Kesimpulan Para Pakar WHO Tentang Asal-Usul Covid-19 Menyesatkan

Melolo, 20 Juni 2021. Pada awal merebaknya penyakit Covid-19, tidak sedikit yang mencurigai penyebab penyakit tersebut, yaitu virus yang dikenal sebagai SARS-CoV-2, menyebar akibat kebocoran pada laboratorium penelitian mikrobiologi di Wuhan, Tiongkok. Sempat terjadi ketegangan antara Tiongkok dengan Pemerintah Amerika di bawah Donald Trump yang berdasarkan informasi intelijen getol menuding Tiongkok teledor dalam penanganan virus SARS-CoV-2 di laboratorium sehingga bocor dan menyebar di masyarakat, sehingga Tiongkok dipandang bertanggung jawab atas epidemi Covid-19. Bahkan ada yang berteori bahwa virus SARS-CoV-2 sebenarnya merupakan hasil program senjata biologi Tiongkok yang kemudian bocor dan menyebar.

Presiden Amerika Serikat waktu itu, Donald Trump, sempat menghentikan sumbangan keuangan Amerika terhadap Badan Kesehatan Sedunia PBB, WHO, karena antara lain dituding melindungi Tiongkok. Akhirnya di masa pemerintahan baru Amerika Serikat di bawah Joe Biden, WHO melakukan penyelidikan terhadap asal-usul SARS-CoV-2 pada bulan Januari dan Februari 2021.

Hasil penyelidikan yang kemudian dipublikasi WHO di situsnya mengungkap bahwa dari semua kemungkinan asal-usul SARS-CoV-2, peluang penyebaran virus akibat kebocoran atau keteledoran penanganan di laboratorium hampir pasti tidak ada. Sumber penyebaran yang lebih masuk akal menurut laporan tersebut adalah penularan dari hewan kepada manusia.

Namun demikian, ulasan Majalah Ilmu Pengetahuan ternama Science terhadap hasil penyelidikan mengungkap temuan berbeda. Menurut ulasan tersebut, sebenarnya tidak ada temuan yang jelas yang mendukung kesimpulan tentang hampir mustahilnya SARS-CoV-2 menyebar akibat kebocoran atau keteledoran laboratorium.

Selain itu, masih menurut ulasan Science, kedua teori tersebut tidak dibahas secara seimbang. Hanya 4 dari 313 halaman laporan tersebut dan lampiran-lampirannya yang membahas tentang peluang penyebaran akibat kebocoran atau keteledoran laboratorium.

Bahkan Direktur Jendral WHO Tedros Ghebreyesus dalam sambutannya terhadap hasil penyelidikan tersebut menyatakan bahwa bukti yang diangkat tidak cukup untuk mendukung bahwa peluang penyebaran SARS-CoV-2 hampir pasti bukan karena kebocoran atau keteledoran di laboratorium, sehingga diperlukan bukti lain untuk dapat memberi penilaian yang lebih memadai. M. SP

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *